Liu Shan memerintah Shu Han selama empat puluh tahun: dari kaisar muda hingga jalur legenda jenderal yang menyerah

robot
Pembuatan abstrak sedang berlangsung

Masehi 263 tahun, ketika pasukan jenderal Wei, Deng Ai, mendekati kota Chengdu, sebuah keputusan mengubah tatanan sejarah Tiga Kerajaan. Kaisar Shu Han Liu Shan memilih untuk tidak melawan dan membuka kota untuk menyerah, keputusan ini menjadikannya kaisar yang memegang kekuasaan terlama selama periode Tiga Kerajaan—meskipun pemerintahan selama empat puluh tahun ini berakhir dengan kehancuran imperium. Kaisar yang tidak pernah mendapatkan kepercayaan penuh ini, apakah dia seorang penguasa yang biasa-biasa saja atau seorang pragmatis yang terperangkap oleh zaman dan lingkungan?

Naiknya ke Tahta: Titik Awal Kekuasaan Liu Shan

Liu Shan bernama asli Liu Shan, nama kecil A Dou, lahir pada tahun 207. Ketika dia masih di bawah dua puluh tahun, sebuah perang mengubah jalur hidupnya. Dalam Pertempuran Yiling tahun 222, ayahnya Liu Bei mengalami kekalahan telak dan kemudian meninggal di Kota Baidi. Sebelum meninggal, Liu Bei menitipkan anaknya yang belum dewasa kepada Perdana Menteri Zhuge Liang, sebuah keputusan yang menjadi dasar politik Shu Han selama beberapa dekade berikutnya.

Pada tahun 223, Liu Shan yang berusia enam belas tahun secara resmi naik tahta. Tapi lebih tepat disebut sebagai mewarisi sebuah nama kosong. Saat Liu Shan duduk di atas singgasana, kekuasaan sebenarnya sudah dipegang—yaitu oleh Zhuge Liang, tokoh yang memegang kekuasaan nyata di Shu Han. Menurut catatan sejarah, Liu Shan pernah berkata kepada Zhuge Liang: “Urusan pemerintahan dipegang oleh keluarga Zhu, sedangkan upacara keagamaan adalah tugas saya.” Ucapan ini cukup menggambarkan struktur kekuasaan saat itu: seorang kaisar muda, dan seorang pejabat berkuasa yang kuat.

Era Zhuge Liang: Bagaimana Liu Shan Menghadapi Kekuasaan Perdana Menteri selama Dua Belas Tahun

Dari tahun 223 hingga 234, selama dua belas tahun, Liu Shan menyaksikan masa pemerintahan Zhuge Liang di Shu Han. Perdana Menteri yang dipandang sebagai simbol kebijaksanaan ini melaksanakan serangkaian reformasi. Ia menerapkan prinsip “mengatur Shu berdasarkan hukum”, menekankan pengembangan pertanian, melatih tenaga militer, dan melakukan beberapa kampanye militer ke utara—“Enam Serangan ke Qishan” menjadi aksi militer paling terkenal dari periode ini.

Peran Liu Shan selama periode ini apa? Singkatnya, dia adalah simbol pemerintahan. Dia terlibat dalam urusan pemerintahan, tetapi keputusan utama tidak di tangan dia; dia memberi perintah, tetapi pelaksanaan ada di tangan Zhuge Liang. Namun, pemisahan kekuasaan ini, bagi Liu Shan yang muda, mungkin tidak buruk. Kemampuan Zhuge Liang menjaga stabilitas dan perkembangan Shu Han di tengah-tengah Tiga Kerajaan, sementara Liu Shan menghindari kesalahan yang sering dilakukan oleh kaisar muda—keserakahan, pengambilan keputusan yang buruk, dan kepercayaan berlebihan kepada orang kecil.

Pada tahun 234, dalam Pertempuran Wuzhangyuan, Zhuge Liang meninggal dunia. Saat itu, saat yang dinantikan Liu Shan selama lebih dari sepuluh tahun akhirnya tiba—dia akan mulai memegang kekuasaan sejati.

Era Jiang Wan dan Fei Yi: Eksplorasi Pemerintahan Sendiri Liu Shan dan Keseimbangan Kekuasaan

Dua puluh tahun setelah kematian Zhuge Liang (234–253), Liu Shan menghadapi tantangan baru. Ia harus menjaga stabilitas Shu Han tanpa kehadiran Zhuge Liang yang sangat mampu. Pilihan yang diambil adalah terus bergantung pada sejumlah pejabat yang kompeten—Jiang Wan dan Fei Yi menjadi tokoh kekuasaan nyata selama periode ini.

Periode ini sering disebut sebagai “Era Pemeliharaan” Shu Han. Dibandingkan dengan kampanye utara yang sering dilakukan Zhuge Liang, Jiang Wan dan Fei Yi mengambil strategi pertahanan yang lebih hati-hati. Shu Han mengurangi aksi militer besar-besaran, berfokus pada pengembangan ekonomi dan stabilitas sosial. Secara kasat mata, ini tampak sebagai tanda kemunduran; tetapi dari sudut pandang lain, ini mencerminkan pragmatisme Liu Shan—menghindari pemborosan kekuatan dalam kondisi terbatas, sebuah pilihan rasional.

Perlu dicatat, selama dua puluh tahun ini, Liu Shan tidak sepenuhnya pasif. Ia melakukan keseimbangan halus di antara berbagai kekuasaan pejabat berpengaruh, tidak membiarkan kekuasaan salah satu terlalu dominan, dan juga tidak membiarkan Shu Han terjebak dalam kekacauan internal. Kemampuan ini, dalam sejarah, jarang terlihat.

Intervensi Istana dan Kemunduran: Dua Puluh Tahun Terakhir Liu Shan

Pada tahun 253, Fei Yi dibunuh. Dengan meninggalnya tokoh kekuasaan utama Shu Han, muncul tokoh baru di panggung pemerintahan Liu Shan—Yuan Huo, pejabat istana dari kalangan eunuch. Ini menandai awal kemunduran Shu Han.

Kepercayaan Liu Shan kepada Yuan Huo menjadi salah satu alasan utama mengapa banyak sejarawan dan kritikus mengkritik dia. Intervensi eunuch dalam pemerintahan membawa kekacauan, kelonggaran pertahanan militer, dan pengambilan keputusan yang ceroboh. Pada saat yang sama, jenderal Jiang Wei tetap berperang melawan Cao Wei di utara, tetapi kampanye yang sering dilakukan justru semakin menguras kekuatan Shu Han. Persaingan kekuasaan antara pejabat istana dan jenderal, ditambah ketidakmampuan kaisar mengendalikan situasi, membuat akhir Shu Han semakin dekat.

Pada tahun 263, ketika Deng Ai memimpin pasukan menyerang secara mendadak di Yinping dan mendekati Chengdu, Shu Han sudah kehilangan kekuatan tempurnya yang dulu. Liu Shan mendengarkan saran penasihat Zhuo Zhou, memutuskan membuka kota untuk menyerah, menghindari perang kota yang berdarah. Keputusan ini memicu perdebatan di kemudian hari: apakah itu pengkhianatan karena takut atau pilihan yang rasional?

Pangeran Anle dan “Tidak Memikirkan Shu”: Kehidupan Setelah Menyerah

Setelah menyerah kepada Wei, Liu Shan dipindahkan ke Luoyang dan diberi gelar “Pangeran Anle” oleh penguasa Jin Barat. Di bawah kekuasaan baru, dia menjalani kehidupan yang relatif nyaman. Sima Zhao pernah mencoba menggali apakah Liu Shan merindukan Shu Han, dan jawaban Liu Shan menjadi kalimat terkenal: “Di sini bahagia, tidak memikirkan Shu.”

Kalimat ini menjadikan “tidak memikirkan Shu” sebagai sebuah peribahasa, digunakan untuk menggambarkan pengkhianatan atau ketidakpedulian terhadap tanah air. Tetapi dari sudut pandang lain, kalimat Liu Shan ini juga mencerminkan sikap hidup yang pragmatis—karena situasi sudah tidak bisa diubah, lebih baik menerima kenyataan dan mencari kebahagiaan saat ini. Pada tahun 271, Liu Shan meninggal di Luoyang, pada usia 64 tahun.

Refleksi Sejarah: Seperti Apa Kaisar Liu Shan Sebenarnya?

Narasi sejarah tradisional memberi penilaian rendah terhadap Liu Shan. Dalam “Sanguozhi”, dikatakan bahwa dia “menjadi penguasa yang mengikuti prinsip jika memilih menteri yang bijaksana, maka dia adalah penguasa yang berpegang pada aturan; jika memercayai orang kecil, maka dia menjadi penguasa yang bodoh”—artinya, saat dia dikelilingi pejabat yang kompeten, dia adalah kaisar yang baik, tetapi jika memercayai orang kecil, dia menjadi kaisar yang bodoh. Penilaian ini sebagian besar mencerminkan standar harapan terhadap kaisar dari sistem birokrasi kuno.

Namun, studi sejarah modern menawarkan sudut pandang berbeda. Beberapa ahli menunjukkan bahwa Liu Shan mampu mempertahankan kekuasaan selama 29 tahun setelah kematian Zhuge Liang dan mampu menyeimbangkan berbagai kekuatan politik dalam lingkungan yang kompleks—hal ini membutuhkan kecerdasan politik yang cukup. Dia tidak menyebabkan kekacauan internal karena kekuasaan pejabat berpengaruh, dan tidak terlalu campur tangan sehingga menimbulkan malapetaka. Dibandingkan banyak kaisar sezaman, pencapaian ini cukup mengesankan.

Keputusan menyerah di akhir hayatnya pun, dalam konteks sejarah, memiliki alasan yang rasional. Dalam kondisi yang tidak mampu lagi membalikkan keadaan, memilih menyerah untuk menghindari penderitaan rakyat dan tentara di Chengdu adalah pilihan pragmatis dan manusiawi, bukan karena kelemahan semata.

Penutup: Empat Puluh Tahun Pemerintahan Liu Shan dan Akhir dari Tiga Kerajaan

Liu Shan memerintah Shu Han selama empat puluh tahun, menjadi kaisar yang memegang masa jabatan terpanjang selama periode Tiga Kerajaan. Pemerintahannya menyaksikan masa kejayaan relatif Shu Han, sekaligus kejatuhan dan kehancurannya. Dia bukan seorang penguasa yang luar biasa, tetapi juga bukan penguasa yang sepenuhnya bodoh. Kisah hidupnya mencerminkan dilema dan pilihan seorang penguasa di masa kacau—menghadapi lawan yang lebih kuat, dan konflik kekuasaan internal, dia menghabiskan empat puluh tahun untuk mengartikan apa itu realitas dan tanggung jawab.

Mungkin, penilaian paling adil dari sejarah terhadap Liu Shan bukanlah kecaman, melainkan pemahaman—memahami perjuangan seorang kaisar muda di zaman yang penuh tantangan, dan memahami pilihan seorang manusia biasa di posisi yang luar biasa.

Lihat Asli
Halaman ini mungkin berisi konten pihak ketiga, yang disediakan untuk tujuan informasi saja (bukan pernyataan/jaminan) dan tidak boleh dianggap sebagai dukungan terhadap pandangannya oleh Gate, atau sebagai nasihat keuangan atau profesional. Lihat Penafian untuk detailnya.
  • Hadiah
  • Komentar
  • Posting ulang
  • Bagikan
Komentar
Tambahkan komentar
Tambahkan komentar
Tidak ada komentar
  • Sematkan