Memahami mata uang mana yang menunjukkan nilai terendah terhadap dolar AS memberikan wawasan penting tentang kesehatan ekonomi global. Di seluruh dunia, banyak negara menghadapi tekanan ekonomi yang parah yang menyebabkan mata uang mereka melemah secara dramatis. Analisis komprehensif ini memeriksa mata uang terlemah di dunia, mengkategorikannya berdasarkan wilayah dan menyoroti keadaan ekonomi yang mendorong devaluasi ekstrem tersebut.
Kasus Paling Parah: Ekonomi Hiperinflasi
Contoh paling mencolok dari keruntuhan mata uang muncul di negara-negara yang mengalami inflasi parah dan keruntuhan ekonomi. Venezuela memimpin dengan depresiasi luar biasa, di mana 1 USD setara sekitar 4.000.815 Bolivar (VES). Iran menyusul dengan 1 USD mencapai sekitar 514.000 Rial (IRR). Suriah menunjukkan kasus ekstrem lainnya dengan 1 USD ≈ 15.000 Pound Suriah (SYP). Situasi ini mencerminkan krisis ekonomi berkepanjangan, salah pengelolaan sumber daya, dan kegagalan struktural ekonomi yang menjadikan mata uang ini di antara yang terlemah di dunia.
Tantangan Mata Uang Asia Tenggara
Beberapa negara Asia Tenggara muncul secara mencolok dalam daftar negara dengan valuasi mata uang terlemah. Rupiah Indonesia diperdagangkan sekitar 14.985 IDR per USD, sementara Dong Vietnam berada di sekitar 24.000 VND per USD. Laos tercatat sekitar 17.692 Kip (LAK) per dolar, dan Riel Kamboja diperdagangkan sekitar 4.086 KHR. Kyat Myanmar mencapai sekitar 2.100 MMK per USD. Taka Bangladesh berada di sekitar 110 BDT per dolar. Mata uang terlemah di Asia ini sering mencerminkan pertumbuhan ekonomi yang lebih lambat, tekanan inflasi, dan posisi perdagangan internasional yang terbatas.
Pasar Afrika di Bawah Tekanan Signifikan
Afrika menampilkan banyak contoh depresiasi mata uang. Leone Sierra Leone diperdagangkan sekitar 17.665 SLL per USD, sementara Shilling Tanzania mencapai sekitar 2.498 TZS. Shilling Uganda dikonversi sekitar 3.806 UGX, dan Shilling Kenya rata-rata sekitar 148 KES per dolar. Naira Nigeria diperdagangkan mendekati 775 NGN, Cedi Ghana sekitar 12 GHS, dan Birr Ethiopia sekitar 55 ETB. Ariary Madagaskar mencapai sekitar 4.400 MGA, sementara Metical Mozambique sekitar 63 MZN. Kwacha Zambia dan Kwacha Malawi melengkapi gambaran regional ini dengan 20.5 ZMW dan 1.250 MWK masing-masing. Mata uang Afrika ini menghadapi tantangan termasuk volatilitas harga komoditas, ketidakseimbangan fiskal, dan tekanan utang.
Situasi Timur Tengah dan Asia Tengah
Dinar Irak mempertahankan nilai sekitar 1.310 IQD per USD, sementara Pound Lebanon menunjukkan kelemahan parah sekitar 15.012 LBP per dolar—mencerminkan krisis perbankan. Pound Sudan mencapai sekitar 600 SDG per USD. Negara-negara Asia Tengah termasuk Uzbekistan (11.420 UZS), Tajikistan (11 TJS), Turkmenistan (3.5 TMT), dan Kyrgyzstan (89 KGS) semuanya menonjol di antara mata uang terlemah dunia karena diversifikasi ekonomi yang terbatas dan faktor geopolitik.
Pasar Asia Selatan dan Wilayah Lainnya
Rupee Pakistan diperdagangkan sekitar 290 PKR per USD, sementara Rupee Sri Lanka berada di dekat 320 LKR, keduanya mencerminkan tekanan neraca pembayaran. Rupee Nepal mencapai sekitar 132 NPR, dan Afghani Afghanistan sekitar 80 AFN per dolar. Peso Kolombia diperdagangkan sekitar 3.915 COP, Guarani Paraguay di 7.241 PYG, dan Cordoba Nikaragua sekitar 36.5 NIO. Negara-negara Karibia termasuk Gourde Haiti sekitar 131 HTG dan mata uang Jamaika menghadapi tekanan serupa.
Faktor Ekonomi di Balik Kelemahan Mata Uang
Mata uang terlemah di dunia memiliki penyebab umum: inflasi yang terus-menerus, aliran modal keluar, cadangan devisa yang terbatas, ketidakstabilan politik, dan tantangan ekonomi struktural. Negara-negara dengan hiperinflasi mengalami penurunan nilai mata uang yang cepat, sementara ekonomi berkembang berjuang dengan defisit neraca berjalan dan beban utang eksternal. Ekonomi yang bergantung pada komoditas mengalami kesulitan saat harga global menurun, mengurangi pendapatan ekspor dan aliran devisa asing. Masalah sistemik ini menciptakan siklus yang saling memperkuat di mana kelemahan mata uang meningkatkan biaya impor, memperburuk inflasi.
Implikasi Global dan Tren
Memahami mata uang terlemah di dunia memberikan perspektif tentang ketidaksetaraan ekonomi global dan tantangan pembangunan. Depresiasi mata uang mempengaruhi daya beli warga biasa, meningkatkan beban utang bagi negara dengan kewajiban mata uang asing, dan mempengaruhi daya saing perdagangan internasional. Bagi investor dan trader, nilai tukar ekstrem ini mewakili tantangan sekaligus peluang, mencerminkan realitas ekonomi yang mendasari yang membentuk pasar keuangan global. Memantau tren mata uang di negara-negara yang secara ekonomi tertekan ini tetap penting untuk memahami perkembangan geopolitik dan ekonomi yang lebih luas.
Halaman ini mungkin berisi konten pihak ketiga, yang disediakan untuk tujuan informasi saja (bukan pernyataan/jaminan) dan tidak boleh dianggap sebagai dukungan terhadap pandangannya oleh Gate, atau sebagai nasihat keuangan atau profesional. Lihat Penafian untuk detailnya.
Analisis Global: Mata Uang Terlemah di Dunia dan Faktor Pendorong Ekonominya
Memahami mata uang mana yang menunjukkan nilai terendah terhadap dolar AS memberikan wawasan penting tentang kesehatan ekonomi global. Di seluruh dunia, banyak negara menghadapi tekanan ekonomi yang parah yang menyebabkan mata uang mereka melemah secara dramatis. Analisis komprehensif ini memeriksa mata uang terlemah di dunia, mengkategorikannya berdasarkan wilayah dan menyoroti keadaan ekonomi yang mendorong devaluasi ekstrem tersebut.
Kasus Paling Parah: Ekonomi Hiperinflasi
Contoh paling mencolok dari keruntuhan mata uang muncul di negara-negara yang mengalami inflasi parah dan keruntuhan ekonomi. Venezuela memimpin dengan depresiasi luar biasa, di mana 1 USD setara sekitar 4.000.815 Bolivar (VES). Iran menyusul dengan 1 USD mencapai sekitar 514.000 Rial (IRR). Suriah menunjukkan kasus ekstrem lainnya dengan 1 USD ≈ 15.000 Pound Suriah (SYP). Situasi ini mencerminkan krisis ekonomi berkepanjangan, salah pengelolaan sumber daya, dan kegagalan struktural ekonomi yang menjadikan mata uang ini di antara yang terlemah di dunia.
Tantangan Mata Uang Asia Tenggara
Beberapa negara Asia Tenggara muncul secara mencolok dalam daftar negara dengan valuasi mata uang terlemah. Rupiah Indonesia diperdagangkan sekitar 14.985 IDR per USD, sementara Dong Vietnam berada di sekitar 24.000 VND per USD. Laos tercatat sekitar 17.692 Kip (LAK) per dolar, dan Riel Kamboja diperdagangkan sekitar 4.086 KHR. Kyat Myanmar mencapai sekitar 2.100 MMK per USD. Taka Bangladesh berada di sekitar 110 BDT per dolar. Mata uang terlemah di Asia ini sering mencerminkan pertumbuhan ekonomi yang lebih lambat, tekanan inflasi, dan posisi perdagangan internasional yang terbatas.
Pasar Afrika di Bawah Tekanan Signifikan
Afrika menampilkan banyak contoh depresiasi mata uang. Leone Sierra Leone diperdagangkan sekitar 17.665 SLL per USD, sementara Shilling Tanzania mencapai sekitar 2.498 TZS. Shilling Uganda dikonversi sekitar 3.806 UGX, dan Shilling Kenya rata-rata sekitar 148 KES per dolar. Naira Nigeria diperdagangkan mendekati 775 NGN, Cedi Ghana sekitar 12 GHS, dan Birr Ethiopia sekitar 55 ETB. Ariary Madagaskar mencapai sekitar 4.400 MGA, sementara Metical Mozambique sekitar 63 MZN. Kwacha Zambia dan Kwacha Malawi melengkapi gambaran regional ini dengan 20.5 ZMW dan 1.250 MWK masing-masing. Mata uang Afrika ini menghadapi tantangan termasuk volatilitas harga komoditas, ketidakseimbangan fiskal, dan tekanan utang.
Situasi Timur Tengah dan Asia Tengah
Dinar Irak mempertahankan nilai sekitar 1.310 IQD per USD, sementara Pound Lebanon menunjukkan kelemahan parah sekitar 15.012 LBP per dolar—mencerminkan krisis perbankan. Pound Sudan mencapai sekitar 600 SDG per USD. Negara-negara Asia Tengah termasuk Uzbekistan (11.420 UZS), Tajikistan (11 TJS), Turkmenistan (3.5 TMT), dan Kyrgyzstan (89 KGS) semuanya menonjol di antara mata uang terlemah dunia karena diversifikasi ekonomi yang terbatas dan faktor geopolitik.
Pasar Asia Selatan dan Wilayah Lainnya
Rupee Pakistan diperdagangkan sekitar 290 PKR per USD, sementara Rupee Sri Lanka berada di dekat 320 LKR, keduanya mencerminkan tekanan neraca pembayaran. Rupee Nepal mencapai sekitar 132 NPR, dan Afghani Afghanistan sekitar 80 AFN per dolar. Peso Kolombia diperdagangkan sekitar 3.915 COP, Guarani Paraguay di 7.241 PYG, dan Cordoba Nikaragua sekitar 36.5 NIO. Negara-negara Karibia termasuk Gourde Haiti sekitar 131 HTG dan mata uang Jamaika menghadapi tekanan serupa.
Faktor Ekonomi di Balik Kelemahan Mata Uang
Mata uang terlemah di dunia memiliki penyebab umum: inflasi yang terus-menerus, aliran modal keluar, cadangan devisa yang terbatas, ketidakstabilan politik, dan tantangan ekonomi struktural. Negara-negara dengan hiperinflasi mengalami penurunan nilai mata uang yang cepat, sementara ekonomi berkembang berjuang dengan defisit neraca berjalan dan beban utang eksternal. Ekonomi yang bergantung pada komoditas mengalami kesulitan saat harga global menurun, mengurangi pendapatan ekspor dan aliran devisa asing. Masalah sistemik ini menciptakan siklus yang saling memperkuat di mana kelemahan mata uang meningkatkan biaya impor, memperburuk inflasi.
Implikasi Global dan Tren
Memahami mata uang terlemah di dunia memberikan perspektif tentang ketidaksetaraan ekonomi global dan tantangan pembangunan. Depresiasi mata uang mempengaruhi daya beli warga biasa, meningkatkan beban utang bagi negara dengan kewajiban mata uang asing, dan mempengaruhi daya saing perdagangan internasional. Bagi investor dan trader, nilai tukar ekstrem ini mewakili tantangan sekaligus peluang, mencerminkan realitas ekonomi yang mendasari yang membentuk pasar keuangan global. Memantau tren mata uang di negara-negara yang secara ekonomi tertekan ini tetap penting untuk memahami perkembangan geopolitik dan ekonomi yang lebih luas.